Wednesday, February 11, 2015

Keberuntungan Saya Dalam Skripsi

Mumpung lagi mentok ide buat skripsi, saya nulis dulu di blog yang sudah sangat lama tidak tersentuh ini. Huhuhuhu... Maaf ya bloggie.. Kamu tetap ada di hati saya kok, Bloggie.. *peluk bloggie*

Oke.. Karena saya sedang dalam proses mengerjakan skripsi, saya ingin menceritakan beberapa hal yang ada di otak saya mengenai skripsi. Ya, tidak begitu penting sebenarnya.. Tapi, ya sudahlah ya.. Saya hanya sedang ingin menulis. Lagipula, kalau bloggie nanti lama-lama ngga saya isi terus jadi sarang tikus dan kecoa, mau tanggung jawab? #therandomindri. Skip! Abaikan!Langsung saja ke intinya :)

Tulisan ini terinspirasi dari kalimat yang pernah saya dengar, yaitu "Ngga usah repot-repot cari topik buat skripsi, nanti juga kalau udah ketemu sama dosen pembimbing bakal dirubah lagi." That's a fucking bullshit for me! Buktinya, saya berhasil bertahan dengan topik saya dari awal hingga sekarang.

Tentu saja, saya beruntung karena mendapatkan pembimbing yang tidak memaksakan topik pada mahasiswanya. Tapi, siapa sangka selama satu semester, saya ulangi sekali lagi, SATU SEMESTER sebelumnya saya jungkir balik mencari data dan jurnal terkait apa yang ingin saya teliti. Satu semester sebelumnya saya sudah menyimpan baik-baik berbagai jurnal dan bahan terkait topik yang saya inginkan. Satu semester sebelumnya saya sudah mencari alasan kenapa saya ingin meneliti hal tersebut dan bagaimana cara saya akan melakukan penelitian tersebut. Dan selama satu semester, saya berusaha tetap fokus pada topik tersebut padahal saya kadang berpikir untuk meneliti hal lain yang lebih menarik. Semuanya terbayar saat saya bimbingan untuk pertama kalinya, saya sudah siap dengan data beserta alasan yang kuat. Mendapatkan pembimbing yang tidak memaksakan topik pada mahasiswa, saya rasa adalah salah satu jawaban Tuhan atas usaha keras saya di semester sebelumnya.

Membicarakan tentang keberuntungan,tulisan saya akan merambat ke berbagai hal yang saya rasakan dalam pengerjaan skripsi ini. Keberuntungan saya yang lain adalah, saya tidak perlu berurusan dengan birokrasi. Saya tidak perlu ke kesbang atau dinkes atau dinas pemerintahan apapun, saya bahkan tidak perlu membuat surat studi penelitian untuk mencari fenomena. Kenapa? Karena apa yang saya teliti sama sekali belum ada data statistiknya di Indonesia, saya cukup mencari fenomena melalui internet. Sebenarnya hal ini tidak pernah saya perhitungkan sebelumnya, saya baru menyadari hal ini ketika melihat teman-teman saya sibuk membuat surat stupen, dll. Hal ini membuat saya dapat lebih cepat untuk memulai pengerjaan latar belakang. Tapi, dibalik itu semua saya harus jungkir balik mencari materi terkait judul yang saya buat. Saya hampir tidak pernah ke perpustakaan untuk mencari referensi. Kenapa? Percuma! Tidak ada buku referensi yang bisa saya gunakan karena apa yang saya teliti termasuk 'langka' di Indonesia. Saya sangat bergantung pada laptop dan gadget untuk mencari referensi. Itu pun tidak ada yang berbahasa Indonesia, semua referensi terkait judul saya berbahasa inggris. Begitu pula dengan jurnal-jurnal yang saya temukan. Jika sebelumnya saya jungkir balik untuk mencari penguatan topik, kali ini saya jungkir balik untuk mencari penguatan judul dan materi. Menerjemahkan Inggris-Indonesia tanpa merubah makna itu sulit, saya pernah menghabiskan 3-4 jam untuk menerjemahkan satu paragraf karena saya tidak ingin skripsi saya terlalu banyak istilah bahasa inggris. Sekali lagi, keberuntungan saya mengenai surat-menyurat sepertinya adalah pemberian dari Tuhan.

Ada satu lagi keberuntungan yang saya dapatkan. Paling tidak, saya dilihat beruntung oleh orang lain. Kenapa? Karena saya mendapatkan dosen yang sangat baik untuk menjadi pembimbing saya. Ah, seandainya saja mereka tahu bahwa yang saya butuhkan bukan pembimbing yang baik, melainkan pembimbing yang dapat diajak diskusi. Ketika pertama kali bimbingan dengan beliau, saya tahu bahwa tantangan saya adalah dalam menyampaikan ide yang saya punyai. Saya bisa merasakan dari awal kalau saya dan beliau akan sulit berdiskusi dan menyatukan pikiran. Sialnya, beliau adalah pembimbing 1! Saya sudah sempat takut untuk tersendat dalam pengerjaan skripsi (serius!). Tapi, untunglah pada bimbingan selanjutnya saya dapat melihat celah untuk mendapatkan perhatiannya. Pada bimbingan tersebut, beliau mulai dapat saya ajak berdiskusi. Wish me luck untuk bimbingan selanjutnya! :D



salam,
Indri
(mahasiswa tingkat akhir yang lagi seneng mojok bareng skripsi sampe malem)
click utk lihat lebih lanjut...

Friday, November 21, 2014

Deppresed!

I'm soooo fucking insane right now! Hahahaha.. I don't know why.. At first, I thought it's a mood swing because I got my periods. But, it have been 2 weeks and I still can't understand why I'm so easily angry and feel too much fear. I don't even productive lately.

Oh shit! I've become too much complained and turn into such a crybaby. Do I press myself too much? I don't know. I try to figure it out but I can't find the answer.

No, I don't feel fucking lonely or anything like that. I'm becoming so lazy to do anything. Well, I know that I'm a sleepyhead but that doesn't mean I'm a slacker. I feel fear easily when I face a problem, a fucking little problem! I'm not like that for months! No after I stop from my self harm 'cause I know that I get stronger.

But, what is the fucking wrong with me right now? I think I need to curse much more! I need find a way to release my depressed. But, how?!! I don't even know what I have to face! I don't even know what my problem is! It's a fucking shit!! It's so much better to be depressed by a big problem as long as you know what the problem is!

I think I need her. My mood is so much fucking better when she is around. Do I need spend more time with her? Maybe I depressed because it have been a long time I don't spent all my time with her?

Oh, fuck it! I got headache and I don't even know what I'm thinking about. Maybe I just need some fucking rest. I feel better after I got an enough sleep. But, is it really what I need or what I want?!! Oh, fuck it!

God!! Do I let myself get lost for the second time? Do I let my-fucking-self get lost? How it can be? When I let my inner self go away? Oh shit.. I need to find it. I can't even feel God in this kind of situation. I can't even feel my fear when I remember my sin. I can't even cry in my pray! I move backwards!

Oh shit! Fuck it! Is that my real problem? That I lost my-fucking-self?! Oh.. Well, probably it is. I ought to find a way to make it up once again. I need to release myself from this fucking shit condition. I need to release myself from this fucking ridiculous depressed situation. I need to get myself back!
click utk lihat lebih lanjut...

Wednesday, October 15, 2014

Dear, Semutku..

Halo, semutku.. Apa kabarmu di sana? Apa kau baik-baik saja? Aneh rasanya melewati hari tanpa kabar darimu. Kau tidak membalas semua kontak yg kuberikan kepadamu. Apa kau sedang marah padaku?


Semutku.. Bukankah sudah kuberi kabar bahwa aku merindukanmu? Apakah kabar itu tidak tersampaikan? Haruskah aku berteriak lebih kencang pada angin? Ah, aku tidak begitu mengerti meski berpura-pura mengerti. Apa langkah yang sebaiknya kulakukan sekarang?

Semutku.. Kau mengenalku saat aku merasa terpuruk, kau menjadi temanku saat sayatan menjadi sahabatku, kau menjadi sahabatku saat kemarahan dan ego menjadi diriku, kau menjadi kekasihku saat aku lelah menghadapi dunia.

Semutku.. Kau tentu melihat perubahan pada gulamu ini. Dimulai dari kamar yang selalu terlihat bersih hingga ritual agama yang semakin menguat. Kurasa aku telah menemukan diriku keluar dari kegelapan. Kini aku merasa lebih baik, lebih bahagia, lebih utuh.

Tapi, Semutku.. Aku menjadi kehilangan kemampuanku untuk menjadi palsu. Tidakbada lagi berpura-pura baik atau berpura-pura jahat. Tidak bisa lagi berpura-pura tersenyum. Karena itu, dapat kuoastikan rasa sayangku padamu juga tidak palsu. Katena aku masih menyayangimu.

Semutku.. Maaf aku menyakitimu dengan perasaanku. Aku pernah sangat terbawa arus sehingga tidak berpikir. Kini aku berusaha menyeimbangkan hidupku, berpikir dgn perasaan dan merasakan dgn pikiran.

Semutku.. Beberapa hal dalam hidupku memang berubah tapi aku tetap menyayangimi.
click utk lihat lebih lanjut...

Thursday, September 25, 2014

I'm a(n) (ex-)Self Harmer

note: jika ada yang merasa asing dengan istilah self harmer, definisi singkatnya adalah :orang yang menyakiti diri mereka sendiri *secara harfiah*. Jika kurang jelas, bisa search sendiri di Google


Ini adalah sebuah pengakuan yang lain.. Bukan berarti saya ingin mengumbar keburukan dan kekurangan, tapi seperti yang pernah saya katakan bahwa pengakuan seperti ini saya lakukan untuk memudahkan diri saya untuk bisa menerima diri sendiri dan membuat saya lebih baik. Bagaimana bisa? Mudah saja.. Ketika saya sudah mengakui kekurangan saya, saya tidak akan peduli jika ada orang lain yang menghina ataupun mencaci-maki saya. Toh, saya sudah mengakui kekurangan itu, apa kata orang tidak berarti untuk saya. Yang paling penting adalah saya tetap berusaha untuk lebih baik.

Baiklah, kembali ke topik… Bagi yang sudah membaca postingan saya yang berjudul ‘Dear Self,…’ dapat menemukan bagian yang mengatakan bahwa saya pernah hidup dalam kesakitan yang terukir nyata di permukaan kulit. Hal itu bukanlah sebuah kebohongan ataupun analogi.. Bodoh? Memang itu sebuah kelakuan yang sangat bodoh. Aneh? Mereka yang pernah mengalami hal yang sama dengan saya tidak akan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang aneh.

Kenapa saya memilih koping yang destruktif seperti itu? Yang pasti bukan karena saya melupakan Tuhan.. Ketika saya melakukan hal itu, saya melakukan dengan penuh kesadaran bahwa yang saya lakukan itu salah. Tapi percayalah... Saat pikiranmu sedang sangat penuh dan tidak bisa ditambah lagi dengan apapun, menyakiti diri sendiri menjadi sebuah pelepasan yang sangat cepat dan efektif. Oke, stop..!! Saya tidak akan melanjutkan penjelasan tentang perasaan saya ketika melakukan self harm. Saya tidak ingin penjelasan saya menjadi semacam trigger untuk orang lain (well, in my experience, read something about self harm can be a good trigger to make me did it again and again).

Perilaku self harm yang saya lakukan adalah menusuk, menyayat, memukul diri sendiri, dan mencakar tangan hingga luka. FYI, masih ada berbagai cara lain untuk menyakiti diri sendiri namun yang paling banyak digunakan adalah menyayat-tangan, kaki, paha, perut. Entah kenapa menyayat lebih populer, sepertinya karena di atas kulit kita ada saraf penerima rasa sakit sehingga ketika kita melukai kulit rasa sakit lebih terasa. Selain itu, menyayat lebih mudah mengeluarkan darah dan darah yang keluar seringkali memberikan ketenangan yang tidak bisa dijelaskan.

Sebenarnya, kasus self injury/self harm di Indonesia sendiri cukup banyak. Namun, entah kenapa tidak banyak kasus yang terungkap dan tidak ada yang pernah benar-benar terekspos. Entah karena masih banyak hal lain yang lebih urgent untuk ditangani atau orang-orang di negara ini masih menutup mata untuk hal ini. Yang pasti, saya tertarik untuk melakukan penelitian tentang hal-hal seperti ini. Mungkin karena saya tahu seperti apa rasanya ketika putus asa melanda namun bingung bagaimana caranya untuk meminta bantuan.

Oh.. Tapi jangan salah.. Saya tidak selalu bersimpati kepada orang-orang yang melakukan perilaku ini. Saya justru merasa tersinggung pada orang-orang yang memamerkan foto dari hasil sayatan, seakan-akan yang mereka lakukan adalah sebuah prestasi. Dan mereka yang melukai diri mereka sendiri karena PACAR!! Oh God.. It feels like an insult to me!

Kenapa saya tidak menyukai orang-orang seperti itu? Karena, setau saya, mereka yang memiliki suicidal thoughts justru tidak seberani itu untuk memperlihatkan perilaku self harm itu, apalagi melalui medsos yang jelas-jelas akan dilihat oleh ratusan orang!!! (guess i don’t have any suicidal thoughts anymore. haha)

And what the hell is wrong with people who did self harm because their lover?!! Makes me sick! Masih banyak orang yang melakukan self harm karena hal lain yang lebih berat. Oke, masalah yang berat itu memang subjektif. Tapi coba bandingkan kedua kasus ini, mana yang lebih berat?

1. Your lover left you or somebody rape you?
2. Your lover left you or emotional abused by your parents?

You know the answer, right?

Ohya, saya ingin memberi tahu sesuatu yang lucu. Meski saya mengatakan bahwa saya adalah ex-self harmer, sebenarnya saya tidak bisa dikatakan ex-self harmer murni (tsaahhh bahasanya). Kenapa? Karena meski saya sudah beberapa bulan ini tidak melakukan perilaku self harm apapun, SAYA MASIH DALAM TAHAP MENCOBA BERTAHAN UNTUK TIDAK MELAKUKANNYA LAGI. Jika kalian tau seperti apa rasanya, proses berhenti dari perilaku ini sangatlah sulit. Dapat bersih dalam waktu beberapa bulan terakhir, jujur saja, merupakan sebuah kebanggaan untuk saya.

There’s still a desire to do it, but I try to hold it. Yeah.. I’m still in my struggle with this shit! But, I’ll pass it. I’ll be the winner..

Dan inilah pengakuan yang telah saya lakukan, meski sebenarny sangat sulit saya tuliskan. Tapi inilah diri saya.. Jika saya tidak bisa menerima diri saya sendiri, siapa lagi yang bisa menerimanya?
click utk lihat lebih lanjut...

Saya ini Manusia Pengecut

Saya adalah seseorang yang pengecut.. Dengan besar hati, saya mengakui hal tersebut. Tidak.. Bukan berarti saya bangga, saya hanya menerima sifat pengecut itu sebagai bagian dari diri saya. Dan tidak.. Bukan berarti saya tidak berusaha merubah sifat tersebut, saya hanya ingin mengakuinya agar lebih mudah untuk mengurangi sifat itu.

Saya adalah seseorang yang pengecut saat menghadapi masalah. Kenapa? Karena jika saya sedang memendam masalah dan banyak pikiran, saya akan menghindari keramaian dengan alasan untuk mencari ketenangan. Memang tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Yang salah dari sikap saya adalah, disaat seperti itu saya akan mengabaikan seluruh tanggung jawab yang sedang saya pikul sehingga orang-orang menjadi kelimpungan mencari saya. Dan ketika saya hendak kembali pada tanggung jawab, disaat seperti itulah kepengecutan saya dapat terlihat dengan jelas.

Saya selalu takut kembali pada tanggung jawab yang saya emabn setelah saya pergi menghilang. Aneh? Memang.. Tapi, jujur saja, saya selalu takut dengan pandangan sinis seseorang. Daripada saya mendapatkan pandangan sinis itu, lebih baik saya tidak perlu muncul sama sekali.
Dalam fase mencoba kembali tersebut, kadang saya cukup beruntung karena mendapatkan seseorang yang bisa kembali merangkul saya. Karena dengan begitu, akan lebih mudah bagi saya untuk memperbaiki semua kegagalan dan kesalahan saya. Saya akan langsung mengebut untuk mencapai tujuan yang sempat tertinggal.

Namun, tak jarang saya mendapatkan perkumpulan yang tidak begitu lihai untuk kembali merangkul saya (termasuk ketua perkumpulan tersebut) *note:saya sengaja menggunakan kata perkumpulan yang -saya anggap- mewakili kata organisasi, kepantiaan, ataupun sekumpulan orang-orang* Dengan kondisi seperti ini, biasanya saya jarang bisa kembali sepenuhnya. Partisipasi yang saya lakukan pada perkumpulan tersebut menjadi hanya sebatas melakukan apa yang harus saya lakukan.

Sejujurnya, di perkumpulan seperti inilah saya takut mendapatkan pandangan sinis. Saya takut jika ada yang merasa bahwa saya sudah tidak begitu diperlukan dalam perkumpulan karena sudah lama menghilang. Bahkan perkataan sederhana seperti, “Kemana aja atuh, Ndri?” (apalagi dengan nada bercanda yang sinis) dapat membuat saya kembali under pressure dan berpikir, “apa benar keputusan saya untuk kembali lagi?” Konyol? Memang… But, hey!! I’m just a human and I can’t read exactly what your mind is!!?

Di saat seperti itu, saya menjadi Indri yang penakut dan terlalu senditif. Saya menjadi seseorang yang selalu berpikiran negatif! Saya terlalu pengecut untuk menghadapi rasa takut saya.

Oh.. What the hell!! Saya mencoba untuk berubah dan menembus batas kepengecutan saya! Tapi itu semua seakan sudah menjadi habit dan membuat semuanya kembali seperti siklus yang tidak pernah berhenti! Saya butuh lingkungan sekitar untuk membantu mendobrak diri saya agar tidak terus berlari dari masalah dan ketakutan!

Dulu mungkin saya akan mencari pembenaran dari sikap-sikap yang saya lakukan, tapi sekarang saya hanya merasa bahwa saya harus berubah! Saya lelah hidup dalam ketakutan. Karena itu saya membuat postingan ini. Membantu saya mengakui seperti apakekurangan dan kelemahan saya. Membantu saya menerima seperti apa adanya saya. Membantu saya untuk tidak peduli jika ada yang menyepelekan sikap saya yang pengecut ini. Karena ini tentang saya dan hidup saya. Saya yang akan berubah dan memperbaikinya!
click utk lihat lebih lanjut...

Sunday, September 14, 2014

Dear Self, ....

Dear bloggie,
sudah lama sekali aku tidak menorehkan kata-kata di tempat ini. Apa kau merindukanku? Setelah sekian lama aku tidak berkunjung, bolehkah aku membuat sebuah surat yang melankolis untuk diriku sendiri? Cengeng memang... Tapi aku membutuhkannya. Mungkin ini caraku untuk melihat diriku sendiri.
________________________________________
Dear self,
kau sudah melangkah begitu jauh dari seorang remaja menjadi sosok yang berbeda. Kau dulu begitu sering menangis, merasa begitu banyak hal yang tidak adil terjadi dalam hidupmu. Dulu kau merasa dirimu tidak bisa sehebat kakak atau adikmu dan menangis karena merasa dibandingkan.
Yaa.. Tapi itu dulu.. Saat kau masih menjadi seorang remaja dengan emosi yang belum matang. Sudah bertahun-tahun yang lalu kau melupakan kejadian tersebut, karena akhirnya kau sadar... Masing-masing anak memiliki perbedaan dan seperti apapun orang tua memperlakukan anaknya, esensi yang dimilikinya tetap sama. KASIH SAYANG..
Kurasa, orang-orang yang menganggap hal tersebut masih menjadi sebuah isu dalam hidupku adalah mereka yang tidak begitu mengenalku.

Dear self,
kau selalu menjadi orang yang keras. Ingatkah kau pernah begitu terbawa emosi? Kau bahkan memutuskan untuk tidak berbicara pada keluargamu kecuali itu sangat penting. Kau tidak mengindahkan kata-kata mereka dan semakin mengeraskan hati saat ditegur.
Tapi kini kau telah berubah, kau berusaha untuk berubah... Kedua orang tuamu semakin tua, memiliki keriput dan guratan kelelahan yang lebih banyak. Setiap kau pulang dan mendapati ayahmu sendirian di rumah sedangkan ibumu sedang menjalankan tanggung jawabnya di luar kota, kau akhirnya tersadar... begitu sedikit waktu yag kau berikan untuk mereka. Betapa egois dirimu yang selalu menuntut pengertian namun hanya memberi sedikit pemahaman.
Sekarang kau mencoba untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang tuamu. Melunakkan sedikit bagian dari hatimu untuk kedua orang tuamu, untuk keluarga yang dulu pernah kau acuhkan dan tidak begitu kau pedulikan.

Dear self,
kau sudah mengalami begitu banyak pengalaman manis dan pahit. Membuatmu selalu berubah dari waktu ke waktu, dari kesakitan ke kesakitan, dan dari kebahagiaan ke kebahagiaan yang lain.
Kau pernah berada di puncak kehidupan, saat kau dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu. Ketika kau terpuruk dan berjalan terseok-seok, mereka akan menasihatimu dan membantumu untuk kembali berjalan dengan langkah yang tegap. Mereka pernah membicarakanmu saat kau tak melihat mereka, kau tidak memungkiri hal itu, tapi mereka juga tidak akan membiarkanmu jatuh terlalu dalam. Mereka akan memberitahumu bahwa sikapmu salah dengan cara mereka sendiri lalu membantu agar kau tetap bisa berdiri. Mereka memerhatikanmu, menyayangimu, dan menjagamu. Dari mereka kau belajar tentang kebahagiaan.
Kau pernah berada di dasar kehidupan, saat kau dikelilingi oleh orang-orang yang mencibirmu. Tanpa mengetahui sepak terjang yang terjadi dalam hidupmu, mereka membicarakan kelakuanmu di balik punggungmu. Mereka yang kau anggap teman tidak pernah benar-benar berusaha untuk meraihmu. Atau kau yang tidak berusaha untuk meraih mereka? Entahlah.. Yang pasti kalian kehilangan kekuatan hubungan karena kau merasa mereka membiarkanmu berjalan sendiri. Ya, kau berusaha mati-matian untuk tetap bisa berjalan ke kampus setiap hari, padahal kau sedang berada dalam lubang kehidupan yang paling dalam. Begitu banyak cibiran yang datang dari belakang tanpa mempertanyakan seperti apa hal yang kau lalui. Kau tahu tentang semua omongan-omongan busuk dibelakangmu, tapi kau berusaha tidak peduli. Dari mereka kau belajar tentang kemunafikan dan ketidakpedulian.
Kau pernah hidup dengan rasa sakit. Bukan rasa sakit di dalam hati, tapi rasa sakit yang secara nyata terukir di permukaan kulitmu. Jarum dan pisau pernah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupanmu, menjadi teman untuk mengurangi beban pikiran yang selalu berkecamuk dalam kepalamu, dalam otakmu. Kau pernah menyakiti dirimu sendiri dan menganggap itu adalah satu-satunya pertolongan yang bisa kau dapatkan, meski kau tahu sebenarnya hal itu tidak akan menyelesaikan apapun. Hingga akhirnya kau memutuskan untuk memberitahu sahabatmu tentang kelakuanmu itu. Dengan caranya sendiri dia membuatmu mengurangi kebiasaan menyakiti diri sendiri dan kau bertekad untuk bersih dari kebiasaan tersebut. Kini kau berhasil mengatasi sikap menyakiti diri sendiri. Darinya kau belajar tentang kepercayaan dan kepedulian.

Dear self,
kau pernah hidup menggunakan topeng. Ketika kau masih menjadi remaja dengan segala kelabilan emosimu, kau selalu merasa menggunakan topeng senyum untuk menutupi kesedihanmu. Kau merasa kuat karena melakukan hal tersebut, hingga akhirnya kau sadar bahwa itu salah... Kau begitu membanggakan dirimu yang bisa tetap tersenyum saat sedang merasa sedih tanpa kau sadari jika semua itu hanya mengarahkanmu pada kesedihan yang lebih dalam. Kau mengasihani dirimu sendiri karena percaya bahwa hal itu membuatmu kuat, padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Quotes ”ada tangisan di balik senyumku” kau ubah menjadi ”ada senyuman di dalam tangisku”. Kau selangkah lebih maju untuk berpikir positif.
Kau pernah menggunakan topeng anak baik. Meski kau sadar sisi brengsek dalam dirimu terkadang ingin keluar, kau tak pernah mengijinkannya. Tidak semua orang bisa menerima jika kau memperlihatkan sisi itu, tapi semua orang bisa menerima dirimu yang baik, sopan, dan selalu taat peraturan. Hingga akhirnya kau muak!! Kau merasa cukup untuk bermain sebagai seseorang yang baik, kau merasa palsu karena tidak pernah benar-benar mengeluarkan seluruh dirimu yang sebenarnya, kau muak dan merasa iri kepada mereka yang bisa berekspresi dengan bebas. Tapi paling tidak, kau menjadi belajar untuk tidak pernah mencibir dan menghakimi orang lain jika mereka berekspresi dengan cara mereka sendiri. Everybody have their own reason..

Dear self,
kau begitu ingin melepaskan topeng yang melekat di wajahmu. Akhirnya tiba kesempatan untuk mengeluarkan sisi brengsekmu. Seseorang yang menjadi sahabatmu dapat membuat dirimu berani mengeluarkan sisi yang selama ini sangat jarang kau perlihatkan. Ia tidak pernah menghakimi dan juga dapat melihat bahwa kau sering menahan dirimu sendiri. Ia tidak suka melihat hal tersebut dan membiarkanmu menjadi dirimu sendiri, sejelek apapun sebenarnya dirimu itu.
Kau merasa bahagia dapat mengeluarkan rasa muakmu pada kepalsuan. Untuk pertama kalinya, kau merasa begitu bebas menjadi dirimu sendiri. Tapi kemudian, kau kembali berpikir... Memang begitu membahagiakan dapat melepaskan dirimu sendiri dari cangkangnya, tapi kadang kau juga tetap merasa tidak sepenuhnya bahagia. Kau berusaha mencari makna dari kebahagiaan, dan akhirnya kau sadar bahwa kebahagiaan bisa kau dapatkan saat adanya penyerahan diri pada Tuhan, bertawakal pada Tuhan, dan biarkan kedua sisi dalam hidup berjalan keluar beriringan, karena kau berpotensi menjadi jahat seperti iblis dan berpotensi menjadi baik seperti malaikat namun kau tetap seorang manusia –yang baik dan brengsek.

Dear self,
kau seseorang yang mencintai Tuhan dan mempercayai agama –apapun- akan selalu mengajarkan kebaikan di dalamnya, tapi kau sering merasa tidak cocok dengan orang-orang yang berada dalam agama.
Kau tidak menyukai mereka yang shalat namun tetap bergunjing, kau membenci mereka yang rajin mengaji namun melabeli orang yang tidak berpakaian seperti mereka sebagai orang asing dari komunitas agama mereka, dan kau tidak cocok dengan mereka yang beribadah dengan dogmatis.
Kau sering berpikir, ”untuk apa beribadah dengan begitu rajin tapi tidak pernah mengetahui makna dari yang mereka kerjakan? Untuk apa terus-terusan beribadah secara dogmatis? Untuk apa mereka melakukan itu semua jika tidak bisa memanusiakan manusia?”
Tidak, kau tidak pernah merasa lebih baik dari mereka. Kau tidak pernah beribadah serajin mereka, bahkan untuk shalat wajib pun kadang kau sangat malas. Tapi, paling tidak kau tahu cara memanusiakan manusia. Kau tahu bagaimana caranya untuk tidak menghakimi orang lain, kau bertoleransi dengan mereka yang berbeda agama, kau tidak membicarakan keburukan orang lain di balik badan mereka. Mungkinkah itu adalah manifestasi cintamu pada Tuhan? Meski kau jarang beribadah, kau tidak melupakan rasa cintamu pada-Nya. Selama ini, kau tidak ingin beribadah karena ada seseorang yang menyuruhmu untuk beribadah, kau ingin menghadap Tuhan karena kau mencintai-Nya bukan karena kau takut pada-Nya.
Terkadang kau memiliki pandangan yang berbeda mengenai agama jika dibandingkan dengan orang-orang disekelilingmu. Kau percaya agama yang kau anut saat ini menjunjung tinggi kemanusiaan dan perdamaian, kau percaya hati manusia akan terketuk saat melihat betapa damai dan lembut agama yang kau pegang. Dan kau sangat percaya agama yang kau pilih bukanlah agama yang akan memberatkan hati seorang makhluk pada Tuhannya. Meski kau belum menjadikan kesadaran tersebut sebagai motivasi untuk melakukan ritual agamamu dengan lebih baik, kau yakin Tuhan mengetahui bahwa kau begitu mencintai-Nya.

Dear self,
kau sudah mengalami berbagai hal dalam kehidupan. Kau memaknai kebahagiaan, kau melewati kesedihan, kau bertahan melalui keterpurukan, dan kau terbentuk menjadi seperti dirimu saat ini.
Apakah kau ingat, dulu kau pernah kehilangan arah dan juga kehilangan dirimu sendiri? Namun, kini kau berada dalam kesadaran tertinggi untuk berusaha melihat dirimu sendiri, dirimu yang sebenarnya. Kau meringankan langkah kakimu, membiarkan pikiran dan perasaan bersatu menjadi pemandu jalanmu. Seperti air yang terus mengalir dan fleksibel dengan kehidupan, kau berusaha untuk dapat menjadi seperti itu. Kau sadar bahwa untuk menjadi diri sendiri tidak bisa didapatkan hanya dengan mengeluarkan sisi brengsek yang ada dalam dirimu, kau juga sadar tidak selamanya sebuah kebaikan akan berlangsung menjadi sebuah kepura-puraan. Kau kini mengerti bahwa menerima diri sendiri dengan apa adanya merupakan hal yang lebih penting dan kau berusaha menemukan diri sendiri dalam menerima semua kesalahan dan kebenaran yang terjadi dalam hidupmu.
Ya, kau berusaha untuk menerima sisi baik dan brengsek sebagai bagian dari dirimu. Kau mendengarkan hati dan pikiranmu yang membimbing kapan dan dimana sisi-sisi tersebut dapat muncul. Kau meringankan langkah kakimu dan membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Dan tentu saja, kau ingin mengatakan SELAMAT DATANG pada kesadaran dirimu yang baru.
Lalu, entah bagaimana caranya, kesadaran baru tersebut mengantarkan dirimu untuk menemukan kesadaran lain yang tidak kalah tingginya. Kesadaran untuk selalu bersanding dengan Tuhan melalui ritual-ritual yang sebelumnya tidak pernah kau jalankan dengan baik. Kau merasa lebih dapat bersama dirimu saat kau melakukan ritual tersebut dengan penuh keikhlasan. Sepertinya kau menemukan esensi Tuhan saat kau menemukan dirimu sendiri.
Kau menyadari pentingnya menjalankan ritual agama yang diperintahkan dan kau bersyukur karena kau tidak ’hanya’ sekedar menjalankan ritual tersebut. Kau merasa berada dalam kesadaran tertinggi dalam kehidupan.

Dear self,
aku adalah dirimu. Satu-satunya makhluk yang mengetahui apa saja yang telah kau lalui, satu-satunya makhluk yang mengetahui perasaan apa saja yang melandamu setiap waktu, satu-satunya makhluk yang mengetahui proses kehidupan yang kau jalani.
Aku melihat masa-masa saat kau masih menjadi seorang remaja dengan emosi yang labil, aku merasakan perasaan bahagia ketika kau begitu menikmati dikelilingi oleh teman-teman sekolah yang begitu menyayangimu, aku mengamati saat kau terjatuh ke dalam lubang yang begitu dalam. Aku juga menjadi satu-satunya makhluk yang terus memerhatikan perkembangan –fisik dan emosi- yang telah kau lalui selama lebih dari 20 tahun.
Aku melihat saat kau menangis karena perbandingan, saat kau memuja kebebasan, saat kau tidak menyukai kemunafikan, saat kau membenci orang-orang yang menjatuhkan orang lain dengan perlahan. Aku tahu bagaimana kau berusaha menghadapi hantaman-hantaman yang terjadi, juga berbagai keputusasaan yang menghinggapi dirimu.
Bolehkah aku meminta tolong? Jangan lupakan kesadaranmu tentang diriku karena aku yang akan menemanimu seperti apapun keadaan yang kau lalui. Aku akan mengingatkanmu saat kau terlalu banyak mengeluh, aku akan menghentikan langkahmu sebelum kau jatuh terlalu dalam, aku akan memberimu pijakan saat kau kehilangan jalanmu. Aku akan membantumu untuk menambah rasa cinta pada Tuhan yang begitu kau agungkan. Aku akan membimbingmu agar kau tidak menyesali pilihan yang telah kau tentukan. Tolong jangan lupakan perasaan yang kau dapatkan saat kau bertemu dengan dirimu sendiri, karena aku begitu menyayangimu.


Best Regards,
Yourself..
click utk lihat lebih lanjut...

Saturday, February 15, 2014

Hidup?

Ada mereka yang menangis dan terlupakan
Ada mereka yang tertawa dan bersembunyi
Ada mereka yang tersenyum dan merintih
Ada mereka yang bersedih dan membatu

Sebenarnya apa? Kenapa?
Haruskah semua perasaan terbuang bersama air terjun?
Lalu apa? Mati?
Tapi ini hidup.. Ya.. Ini hidup..
Berusaha bertahan dalam kelam
Berusaha bertahan dalam kekosongan

Hidup.. Ya.. Ini hidup.. click utk lihat lebih lanjut...

Wednesday, May 15, 2013

Ungkap Cinta

Hangat peluk itu.. Terasakah?
Nyaman kecup itu.. Ingatkah?
Kebahagiaan sederhana saat salju turun di atas hidung kita
Tawa kecil pun mengalun indah

Lalu terbayang perpisahan tanpa air mata
Kesepian berkidung sendu
Luka dalam sebuah cinta sederhana

Namun apa pedulimu? Peduli kita?
Karena sebuah hati telah tertaut
Bersatu dalam ketidaksempurnaan
Bukankah senja yang kita lihat tetap sama?



Lomba Buat Puisi Cinta dengan tema Puisi Cinta Untuk Kekasih – Aura Ide
click utk lihat lebih lanjut...

Sunday, March 24, 2013

Temu Kangen :D

kya~~ blogie.. apa kabar? Udah lama banget kita ga ketemuan ya? Maaf kamu jadi terabaikan gini blog. Tapi bukan berarti saya lupa sama kamu kok. Tenang aja.. Saya tidak akan menyia-nyiakan 3 tahun kebersamaan kita. *peluk erat-erat*

Terakhir kali saya posting itu bulan desember tahun kemarin ya? Wah.. Berarti udah lebih dari dua bulan kamu saya anggurin ya blogie? Untung kamu sabar ngadepin sifat saya yang sering moody buat nulis. Hhe..

Sebenarnya, saya sudah beberapa kali hendak posting tulisan di blog ini, tapi nggak tahu kenapa tiap ketemu sama keyboard tiba-tiba ide yang udah disusun di kepala buyar semua. Ini serius lho. Soalnya beberapa tulisan saya bertebaran di kertas-kertas pada note kuliah. Hehe..


Mau nulis apa lagi ya? Hm.. Sebenernya ini lebih pengen temu kangen aja sama blog yg udah lama bgt ga keurus sih.

Ohya, setelah mengalami begitu banyak masalah di tahun 2012, jatuh bangun sampe berdarah2 (lebay -.-" ), tahun ini saya mengalami cukup banyak perubahan. Mungkin suatu saat nanti akan saya ceritakan di sini :)
click utk lihat lebih lanjut...

Monday, December 10, 2012

Tutor 11... Aye! :D

Secara akademis, anak-anak tutor 11 itu ada di bagian pertengahan. Yaa... Kami nggak buta-buta amat sama istilah-istilah keperawatan, tapi kami juga bukan tipe mahasiswa yang mengoleksi nilai A di setiap mata kuliah.

Tapi jangan salah, pada dasarnya, kami semua itu pintar kok. Hanya sayang aja ketutupan sama rasa malas yang terlanjur bersarang di kelakuan kami. Hal ini dibuktikan dengan betapa susahnya kami semua mengirimkan bahan untuk pengerjaan makalah resume. Diberi deadline sampai hari Kamis, tetep aja Senin depannya harus pada ditagih satu-satu. Hahaha...

Dan duo pemalasan parah di tutor 11 itu dipegang oleh Tanti dan Indri (siapa tuh? Baru denger namanya *kabur*)

Tapi kalau ditanya lagi siapa yang lebih malas dibandingkan kami berdua..... *semua ngeliat saya*


Ahahaha... Baiklah, baiklah... Saya akui. Memang yang paling malas itu saya. Hm... Kalau pas awal-awal sih, rasa malas saya termasuk kategori sedang. Maksudnya, saya nggak lebih malas dari Tanti. Tapi lama-lama, akhirnya terkuak juga kalau saya nggak beda jauh sama Tanti, bahkan lebih parah! (Malah buka aib sendiri -.-" )

Okee! Lanjut cerita tentang tutor 11 ;)
Nggak tahu kenapa, tapi saya merasa tutor yang saya dapatkan kali ini adalah tutor terkompak selama 3 semester saya berdiam diri di FIK. Kalau udah kumpul, mereka yang paling diem pun bisa kebawa heboh! Hahaha...

Apalagi waktu makan bareng kemarin. Asiik bgt deh pokoknya! :D Sayang Nita nggak bisa ikut.. Tapi, nanti kalo kita ada agenda main bareng lagi, nggak mau tahu! Harus ikut semuanya! *maksa* hahaha...

Tutor 11 kebetulan dibimbing oleh dosen yang baru aja menyelesaikan s2 bernama ike -kami memanggilnya bu ike-, jadi kami benar-benar tidak ada banyangan seperti apa dosen yang akan membimbing kami selama SGD. Dan pertama kali kami merasakan SGD dengan beliau, kami sempat merasa kesal. Bagaimana tidak, bu ike ternyata orang yang sangat detil dan penuh analisis. Kalau tutor lain SGD cukup kurang dari 1 jam, tutor 11 bisa sampai lebih dari 2 jam!

Tapi rasa kesal ini tidak begitu lama hinggap di hati kami. Karena, jujur saja, beliau sangat baik. Bila saat reporting kami belum benar-benar mengerti, bu ike akan menjelaskan sampai kami mengerti. Kami juga bisa bebas bertanya bila ada suatu hal atau istilah yang kami temukan dalam bahan kami tetapi kami belum benar-benar paham.

Tapi, yang paling berkesan adalah sifat care beliau. Kenapa?

- Hanya dalam waktu 3 kali pertemuan dengan tutor 11, bu ike sudah hafal wajah dan nama seluruh anggota tutor 11.
- Bila kami habis reporting dan pada hari Jum'atnya akan ada ujian praktikum beliau berkata, "Semangat ya ujiannya. Udah pada bisa kan waktu praktikum mandiri kemarin?".
- Bila kami SGD setelah ujian praktikum, beliau akan berkata, "Selamat ya tutor ini nggak ada yang remed ujiannya."
- Bila kami ribut 'mengadu' kepada beliau bahwa ada yang ulang tahun, beliau akan berkata, "Siapa yang ulang tahun? Oh... (sebut namanya).. Selamat ya.."

Pokoknya seneng bgt bisa dapat dosen pembimbing tutor yang menyenangkan! Jadi, tutor 11 tidak hanya kompak anggotanya tapi juga dekat dengan dosen pembimbingnya. :D
click utk lihat lebih lanjut...

Friday, December 7, 2012

Untitled

Aku kembali meniti jalan yang telah kulalui bertahun-tahun lalu. Tunggu... Apakah aku tersesat?

Ah.. Tentu saja kau tidak tersesat. Kau hanya perlu memutar ke jalan yang sama seperti apa yang sudah kau lakukan bertahun-tahun silam.

Kenapa? Untuk apa? Hanya ingin merasakan sebuah kebutuhan adrenalin yang tidak terpenuhi?


Ah.. Rasanya seperti menjawab sebuah pertanyaan yang bodoh.

Lalu kenapa? Kau merindukan jalanan terjal itu? Kau merindukan bebatuan kasar yang melukai kakimu? Atau kenapa?

Ssstt... Diam dan jangan tanyakan apa-apa. Aku sendiri tidak mengerti. Mungkin aku merindukan ombak yang berdebur dekat kakiku saat mengarungi jalan itu, mungkin aku merindukan rasa dan asa yang ada. Tapi aku sendiri tidak bisa benar-benar mengerti. Jadi, bisakah kau diam dan biarkan aku sendiri mengarungi jalan ini?
click utk lihat lebih lanjut...

Monday, October 15, 2012

Anniversarry yang ketiga :*

Aaaa~~ Maaf maaf maaf maaf maaf..... Aku telat bgt ya bloggie. Harusnya aku posting ini di tanggal 10 bulan September. Udah telat sebulan lebih 5 hari :'(

But, However.. Happy birthday to you and Happy aniversarry to us :*

Makasih udah mau nemenin aku selama ini. Makasih ngga marah-marah meski sering terlupakan dan sering telat aku isi postingannya. Semoga kita makin rukun aja yaa :D


Sunday, October 14, 2012

#Sahkan RUU Keperawatan

Demam aksi untuk pengesahan RUU keperawatan sedang merajalela di fakultas saya. Dan kenapa saya tidak ikut dalam aksi tersebut? Well, tidak ikut bukan berarti tidak mendukung. Bukan bermaksud egois untuk tidak ikut dalam aksi tersebut. Tetapi, selain saya tidak akan mendapatkan izin, saya juga kurang begitu tertarik terjun dalam aksi seperti itu.

Tapi, saya tekankan sekali lagi bahwa tidak ikut aksi bukan berarti tidak mendukung untuk disahkannya RUU keperawatan. Saya akui, perawat awalnya bukanlah sebuah profesi yang saya inginkan. Tetapi saat saya mempelajari bidang ilmu ini, saya tahu bahwa profesi ini sesuai dengan apa yg saya inginkan!


Dan semakin saya mempelajari, saya tahu bahwa profesi keperawatan belum memiliki payung hukum yang jelas. Ini jelas sangat disayangkan karena, sama seperti dokter ataupun apoteker, perawat juga membutuhkan ranah yang jelas dan perlindungan dalam melakukan kegiatannya sebagai tenaga kesehatan.

Tapi, sayangnya, saya baru sampai dalam tahap tahu dan belum memasuki fase paham. Itulah sebabnya saya tidak ikut aksi KALI INI (mungkin saya akan ikut aksi yg berikut-berikutnya).. Masih banyak yang harus saya kaji sebelum terjun dalam dunia advokasi dan aksi seperti itu.

Namun, bagaimanapun, saya berharap teman-teman saya yang melakukan aksi kali ini tidak sia-sia. Semoga profesi kami mendapatkan perhatian dari pemerintah. SAHKAN RUU KEPERAWATAN!!

apa isi dari RUU keperawatan?
click utk lihat lebih lanjut...

Friday, August 10, 2012

An Essay?

Seorang newbie membuat essay, dan beginilah hasilnya. Ini pun sudah hasil revisi sana revisi sini (makasih banyak buat yang udah mau direpotin :) ).. Tapi, entah kenapa saya merasa masih belum benar-benar sreg sama essay ini. Buat kalian yang udah lebih master dibandingkan saya, boleh dong kasih koreksi untuk essay ini. Baik dari segi isi maupun grammar. Untuk perhatiannya, saya ucapkan terima kasih :)


When I was child, I always dreaming to study abroad because I know that many country outside Indonesia has a better system for study in their school. I often think I can’t evolve if I always stay in one place. I don’t know why, but I always feel like I can make that dream.

I know that my parents can’t send me to study abroad, because their payments will not enough to conform my requirement if I study abroad. That’s why when I was a third grade student in senior high school, I often searched in the internet about scholarship. What a pity it’s really difficult to find an undergraduate scholarship. So, I keep looked for it until I become a college student. And when I find Global Undergraduate scholarship, I know that I want and I will try this chance.

Now, I am a student of Nursing Faculty in Padjajaran University. Honestly, nursing is my alternate choice and I don’t really know what will I learn in this faculty. I only choose nursing because I’m interesting with health sector. But now, when I have been studied here, I become love the knowledge that I get from my lecture. Why? Because in this faculty I learn about medical knowledge, pharmacist knowledge, psychologist knowledge, and the best reason why I love nursing is because caring become our main focused. It is not just for a theory but also we practice them everyday. That is why it’s really comfortable to study in nursing faculty – because we take care of each other.

And not only that, we are also being motivated to be active in organization. my lecturer always said, “in real life we can not only rely on our smartness but we ought to retread our soft skill.”

If I get this scholarship, I want to take nursing as my focus because, consider that USA as a developed country, I think there will be a different between what I had learnt in Indonesia and what I will learn in USA. Besides, I want to absorb the good habit of a student college in USA. Such as, active in class, brave to take risk when they get a hard task, etc. So, when I come back to my country I can share my experience to my friends and I wish there will be a better change for them. And, even I never tell anybody, my biggest dream is to be a profesional nurse and dedicated myself to work in remote areas. I want to take care of many people that sometimes is forgotten by the government, increase their level of health, and maybe sometimes, if I have a free time, teach the kids in that region to reading and writing. And I know that to reach my dream I have to have so much knowledge. Not only the knowledge about science that I get in my university, but also the knowledge about life, especially how to face many people with a different manner.
click utk lihat lebih lanjut...

Thursday, August 9, 2012

Pasang Surut Semangat Bermimpi

Ketika saya SD (atau SMP, saya lupa) jika ditanya ingin kuliah di mana, dengan yakinnya saya akan menjawab "oxford". Ya, dulu saya sangat ingin untuk bisa belajar di oxford. Tapi, semakin dewasa, mimpi saya justru smeakin luntur. Oxford bukan lagi menjadi universitas yang saya inginkan, tetapi hanya menjadi tempat yang ingin saya datangi. Itupun bukan keinginan yang sangat kuat, yaa... hanya berupa keinginan yang sekedarnya.

Ketika saya kecil, setiap malam saat saya akan terlelap di atas kasur, saya selalu membayangkan: jika nanti pagi saya terbangun dan membuka pintu, yang saya lihat adalah pemandangan Eropa yang sering saya lihat di televisi. Konyol memang! Tapi saya merasa bahwa saya memang bisa mewujudkan hal tersebut! Sekarang? Rasanya hal tersebut bukanlah hal realistis yang bisa saya perjuangkan.

Ya. Saya memang seorang pemimpi, tapi sayangnya saya bukan tipe orang yang bisa menjaga semangat dari mimpi tersebut. Mungkin karena di keluarga saya belum ada orang yang bisa 'mendobrak' kehidupan atau mungkin juga karena saya memang yang tidak bisa konsisten dalam menjaga semangat.

Sering terjadi dalam hidup saya, saat saya membaca cerita yang penuh motivasi, menonton film yang inspiratif, ataupun mengetahui biografi orang-orang sukses yang berawal dari mimpi, maka semangat saya akan muncul dengan membara. Tapi beberapa minggu kemudian (bahkan kadang hanya dalam hitungan hari), semangat itu akan padam. Tidak padam secara keseluruhan, saya masih bisa merasakan kepingan semangat tersebut. Ya.. Hm.. Hanya kepingan saja. Apa hal tersebut terjadi juga pada anda?

Belakangan, saya sering berpikir apa yang menyebabkan saya seperti itu. Dan jawaban yang saya dapatkan adalah, selain karena lingkungan yang kurang mendukung saya untuk menjadi 'pemimpi', mereka yang saya anggap inspiratif adalah orang-orang yang jauh dari jangkauan saya. Orang-orang yang tidak saya kenal. Orang-orang yang tidak bisa saya ajak berbicara untuk bertukar pendapat.

Karena, jujur saja, beberapa minggu terakhir saya menemukan a humble blog yang merupakan milik seorang dream catcher. Lalu saya membuat kontak dengannya. Mulai dari mengobrol bahkan menjadi seorang stalker! Hahaha...

Tiap kali semangat bermimpi saya padam, saya akan mengunjungi blognya dan meski saya sudah membaca postingan-postingannya berkali-kali tidak ada rasa bosan dalam benak saya untuk kembali membacanya. Dan setiap kali saya membaca postingannya, semangat mimpi itu kembali, getaran-getaran keyakinan itu datang :)
click utk lihat lebih lanjut...

Alasan Saya Mempelajari Agama Lain [1]

Pada hari itu, saya sedang mengobrol dengan salah seorang teman saya. Kami bernostalgia dengan masa-masa SMA kami, bagaimana awal kami bisa berteman. Lalu kami membicarakan tentang kuliah, ipk yang kami dapat, masalah-masalah dalam perkuliahan, tugas-tugas yang bertumpuk. Setelah itu kami mulai sedikit mengadakan diskusi (entah tentang apa, saya lupa) dan semakin lama -entah siapa yang memulai- diskusi kami mulai menyentuh tentang agama.

Dia sedikit tercengang mendengarkan saya berbicara tentang kebingungan saya tentang intoleransi, trinitas, awal mula terbentuknya kristen protestan, kesalahan-kesalahan manusia dalam mempelajari agama -dalam pandangan saya tentunya-, dll.

Saya akui, ilmu saya memang masih sangat sedikit dan masih perlu banyak belajar. Tapi bagi teman saya, hal tersebut merupakan hal yang baru. Lalu meluncurlah sebuah kalimat dari mulut teman saya tersebut, "Kenapa sih kamu tertarik buat mempelajari agama lain kaya gitu?"

Ya.. Kenapa?

Sebelum saya menjelaskan alasan saya, mungkin ada baiknya jika saya membeberkan sedikit latar belakang saya dulu di sini :)

Saya seorang perempuan yang dilahirkan di keluarga multi agama. Alhamdulillah, ibu saya adalah seorang muallaf. Mungkin banyak cerita bahwa jika seorang anak berpindah keyakinan maka ia akan dikucilkan oleh keluarga. Hal seperti itu tidak terjadi hanya pada film-film yang kita tonton. Pada kenyataannya, beberapa kali saya mendengar langsung bahwa hal tersebut memang terjadi.

Namun, alhamdulillah, Allah masih menyayangi saya dan keluarga saya. Hal tersebut tidak terjadi di keluarga saya. Meski keluarga dari ibu saya beragama protestan dan keluarga dari ayah saya beragama islam, tetap terjalin silaturahmi yang baik di antara kedua keluarga. Bahkan tak jarang jika saya sedang berjalan-jalan dengan keluarga dari ibu dan sudah masuk waktu shalat, mereka akan mengingatkan saya untuk shalat terlebih dahulu.

Dari situ saya mengerti tentang arti toleransi. Dan dari situ pula timbul pertanyaan besar pada diri saya mengapa banyak sekali orang yang tidak menghargai toleransi hingga menimbulkan permusuhan di mana-mana. Ditambah lagi pernah pada suatu hari ibu saya berkata, "Yahudi, Nasrani, dan Islam sebenarnya memiliki akar yang sama. Ketiga agama itu akarnya dari nabi Ibrahim." Nah lho.. makin bingung aja kan?

Akhirnya, tanpa saya sadari, saya mempelajari agama selain islam. Kok bisa belajar tanpa sadar? Tentu saja bisa! Karena awalnya saya hanya penasaran seperti apa agama nasrani itu hingga sulit berteman dengan islam, maka saya banyak bertanya tentang ajaran agama nasrani pada ibu saya, membaca buku-buku tentang nasrani, membaca al-kitab -injil, dan tentu saja Qur'an juga jadi salah satu sumber saya.

Dan saya cukup terkejut ketika menemukan beberapa ajaran nasrani yang tidak berbeda jauh dengan islam. Dan semakin membuat saya heran kenapa banyak orang yang masih juga bermusuhan dilandasi dengan kata 'agama'.

Baiklah! Lalu apa keuntungan bagi saya jika mempelajari agama lain? Hm.. Maybe in next post :)
click utk lihat lebih lanjut...

Monday, July 30, 2012

Tentang Agama? Hm...

Beberapa minggu terakhir, kayanya saya jadi sering banget nemuin artikel-artikel tentang agama. Kenapa ya? Apa mungkin saat ini sedang bulan ramadhan? Atau ini cara halus Tuhan untuk menegur saya karena dalam beberapa waktu terakhir saya lupa untuk mengingat-Nya saat sedang sibuk dengan kegiatan? Astagfirullah... Semoga menjadi pelajaran berharga :)

Tapi, saya tidak akan membahas tentang itu. Melihat beragamnya isi dari artikel-artikel tersebut membuat saya menjadi tertarik untuk ikut menulis juga. Dari beberapa artikel yang saya baca, kebanyakan adalah artikel-artikel tentang islam. Dan saya juga menemukan beberapa perbedaan persepsi baik dalam artikel maupun dalam komentar yang kontroversi.
Ada mereka yang memuji islam dan memperlihatkan bagaimana indahnya islam, ada yang memberikan pandangan tentang islam secara universal, ada yang menyatakan umat islam harus berhati-hati karena sebenarnya kita sedang diserang, dan ada juga yang mengatakan bahwa membunuh orang kafir itu halal hukumnya!

saya tidak ingin membenarkan ataupun menyalahkan mereka yang mengatakan semua hal tersebut. Kita manusia memiliki pendapat dan pemiiran yang berbeda sesuai dengan apa yang kita pelajari. Namun, yang menarik di sini adalah, bagaimana cara seorang muslim memandang islam!

Saya akui dan akan saya katakan dengan bangga bahwa saya adalah seorang muslim. Tapi, jujur, saya tidak hanya belajar tentang agama islam. Saya pun mempelajari agama nasrani. Saya belajar tentang trinitas, saya belajar tentang konsep pengorganisasian dalam gereja, saya belajar tentang perbedaan katolik dan protestan, dll.

Saat membaca hal tersebut tentu akan menimbulkan reaksi yang berbeda. Mungkin akan ada yang bereaksi seperti:
"Shalatnya aja belum tentu bener malah belajar agama nasrani."
"Buat apa belajar agama lain? Islam kan udah yang terbaik."
"So' aja paling tuh belajar agama lain, padahal agama sendiri aja belum tentu ngerti!"
Tapi tentu ada juga mereka yang penasaran dan bertanya
"Kenapa dia mau belajar agama itu? Apa tidak menggoyahlan aqidahnya? Apa untungnya mempelajari agama selain agama yang kita anut?"

Jika ada yang bertanya seperti itu, saya sangat berterimakasih. Karena itu berarti anda sudah membuka pikiran anda.

Goyah atau tidaknya aqidah dan iman kita saat mempelajari agama lain itu yaa tergantung dari diri kita sendiri. Dan Alhamdulillah, Allah masih menyayangi saya dengan masih menjaga hidayah untuk saya. Buktinya, saya masih bertahan dengan agama saya sekarang. Jujur, justru dengan mempelajari agama lain, saya justru semakin yakin dengan agama saya dan ditambah rasa toleransi saya kepada agama selain islam juga bertambah dan justru membuat hidup saya lebih indah.

Mungkin saya akan menceritakan hal tersebut di postingan saya berikutnya, karena tentu akan terlalu panjang jika saya menulisnya di sini :)
click utk lihat lebih lanjut...

Wednesday, July 25, 2012

Dear Self, Today You Will Shine

"Dear self, today you will shine"

kata-kata tersebut saya temukan secara tidak sengaja saat sedang googling tentang kata motivasi. Entah siapa yang membuat kata-kata tersebut, tapi jujur, kata-kata itu sungguh menjadi motivasi untuk saya.

Kenapa bisa? Karena jujur, di tahun ini saya mengalami masalah bertubi-tubi. Saya akui, masalah tersebut berkenaan dengan sifat saya yang terlalu introvert. Selama beberapa bulan saya sempat merasa terpuruk. But, thank's to my friend! Kenapa? Karena dia telah datang dan memberiku beberapa nasihat yang kuakui, sangat berpengaruh bagiku.


Baiklah, kembali pada kata-kata yang ajaib tersebut. Ajaib? Ahahaha.. Lebay banget sih ndri! Tapi, yaa... mau gimana lagi? Pada kenyataannya, memang hal itu lah yang saya rasakan. Kata-kata tersebut saya temukan di saat saya sedang kalut, antara ingin bangkit dari masalah dan takut menghadapi kenyataan bahwa saya sudah membuat hidup saya begitu kacau!

Akhirnya kata-kata itu saya pajang menjadi cover photo di profil facebook saya. Dan entah kenapa ketika saya membaca kata-kata tersebut, saya menjadi semangat sendiri. Hahaha... Dan kata-kata itu membuat saya berpikir bahwa saya pasti bisa berubah menjadi seseorang yang lebih baik!

Hm.. Ya, saya tahu, sulit memang untuk merubah diri sendiri. Untuk kasus saya sendiri, saya sampai saat ini kadang masih sering takut menghadapi masalah yang menghadapi saya. Saya kadang masih suka menunda untuk menghadapi semua itu untuk mengumpulkan keberanian. Tapi, saya pikir lebih baik saya menunda namun pada akhirnya saya mengerjakan hal tersebut. Karena, perubahan adalah proses dan proses itu tidak instant dan tidak selalu mudah bukan? :)

DEAR SELF, TODAY YOU WILL SHINE :)
-anonim-
click utk lihat lebih lanjut...

Tuesday, July 17, 2012

2012 = Tahun Galau ?

"ndri... makin lama postingan di blog kamu kok makin galau ya? Apalagi sejak tahun 2012," ujar teman saya pada suatu hari. Emangnya iya? Begitu saya cek dan baca2 lagi sejak awal terbentuknya bloggie sampai sekarang baru saya menyadari kalau peryataan teman saya tersebut memang benar.

Ketika awal pembuatan bloggie, saya ketawa2 sendiri. Kebanyakan postingan saya adalah tentang kehidupan sehari-hari saya. Tahun pertama bloggie, mulai banyak sajak-sajak yang menyiratkan kegelisahan dan kesedihan (tapi masih ada ketawa-kwtawanya). Eh, tahun kedua makin ga jelas aja postingannya. cuma ada 3 postingan sajak dan semua sajaknya tentang kematian. Pantesan teman saya berkata seperti itu -.-


Udah berasa ga punya semangat hidup aja tahun ini. hahaha... Yaa.. Jujur, tahun ini sejak beberapa bulan yg lalu memang saya sedang dilanda masalah yg cukup berat. Akhirnya masalah tersebut berpengaruh ke seluruh aspek kehidupan saya dan membuat semuanya menjadi kacau.

Bahkan untuk kehidupan kuliah, semester ini adalah yg paling kacau. Saya sering kali menghilang dan susah dihubungi, sering jatuh sakit, dan bahkan..... ah udahlah, nggak perlu diomongin. hhe...

Di tahun ini, meskipun belum masuk penghujung tahun, sering bgt merasa penat dan pengen ngejauh dari keramaian. Pengennya itu diem duduk sendiri, tapi kalo kaya gitu malah makin penat. hahahaha... Sebenarnya yg lebih diinginkan itu cerita ke seseorang tentang semua masalah yg saya alami.

Tapi yaa... Dasar aja saya yg ga bisa memanfaatkan teman-teman yg udah begitu baik pengen ngedengerin saya! Akhirnya semua masalah saya telen sendiri, dan tau-tau semua itu udah jadi stressor yg ga bisa saya handle lagi -___-

Yah... Tuhkan, saya jadi ngegalau lagi deh bikin postingan yg kaya beginian. hahahaha....
click utk lihat lebih lanjut...

Friday, March 2, 2012

Senja

Ini adalah senja? Ah.. Tentu saja ini adalah senja. Kau dapat melihatnya dari tebaran pesona yang ditampilkan oleh semburatnya yang malu-malu menembus jiwamu. Kau juga dapat melihatnya dari keindahannya yang saat rintik hujan ini berjatuhan di atas kepalamu.


Ini adalah senja? Ah.. Tentu saja ini adalah senja. Kau tak akan jemu melihatnya meski kadang kau harus melewatkan keindahannya. Kau akan selalu berkutat dengan cahayanya yang bersinar jingga. Ah.. Tidak hanya jingga, karena warna jingga terlalu rumit, apakah hitam? atau putih? ah.. Entahlah..

Ini adalah senja? Ya.. Ini adalah senja. Kau dapat mengetahuinya dari keindahan yang akan membunuhmu pelan-pelan. Benarkah? Entahlah...
click utk lihat lebih lanjut...